Tinggal di Desa?
Tinggal di desa?
Kemarin….
Saya harus membantu client saya untuk setting software di komputernya, karena ada masalah dengan komputer tersebut terpaksa kita harus pindah ke komputer anaknya, putri sulungnya yang sudah cukup berumur… tentunya di kamarnya. Privacy…. kamar itu private bukan?.. dan ketika kita masuk ke kamar yang notabene private tersebut tentu kita akan merasakan hal yang berbeda, takut salah dan lain-lain, akan tetapi tentunya tetap saja mata saya terbuka untuk melihat isi kamar tersebut… terpaksa melihatnya.
Mau tahu apa isi kamar tersebut?… sejujurnya saya sudah berusaha untuk tidak terlalu melihat-lihat apalagi melototin isi kamar tersebut.. akan tetapi saya tidak bisa menghentikan mata saya ketika melihat selembar kertas di atas komputer… di kertas tersebut berbunyi “target hidup”… hal baik yang dilakukan orang ketika dia mau menuliskan target hidupnya, paling tidak seorang motivator terkemuka Indonesia Tung Desem Waringin sudah memaksa kita untuk menuliskan target di dalam setiap seminarnya. Tentu saya tidak boleh menuliskan target hidup putri client saya tersebut di sini, akan tetapi saya hanya akan komentari tentang salah satu dari target hidup putri client saya tersebut “tinggal di desa” karena memang tinggal di desa ini juga sebuah pertimbangan juga buat seorang perantau seperti saya….
Perantauan seperti saya biasanya bekerja keras di rantau… sampai berhasil (berarti juga sampai gagal, karena keberhasilan tidak selalu teraih), banyak pengalaman dari para perantau jakarta yang akhirnya suatu hari harus kembali ke desa nya, untuk membangun desanya, “apakah saya juga akan pulang kampung juga?’ ini seringkali saya tanyakan di dalam hati saya dan sampai detik ini belum terjawab juga,
Saya tumbuh di desa sampai lulus SMA, orang tua tidak mendidik saya tentang pertanian waktu itu mereka lebih memaksa saya untuk fokus belajar di sekolah hingga saya memang cukup berhasil di sekolah SMA dibanding rekan-rekan sabaya saya, akan tetapi tentunya teman-teman saya lebih sukses di sawah waktu itu, mereka sudah bisa mendapatkan uang dalam usia sekolah sementara saya tidak, saya hanya sekedar membantu orang tua saya sebisanya, orang tua pun memang memilih demikian.
Saya rasa pilihan cara mengarahkan anak oleh kedua orang tua saya tersebut tidak salah, karena mereka menganggap pertanian di desa sudah tidak bisa diandalkan lagi di jaman sekarang, tentunya itu karena kondisi real yang dialami kedua orang tua saya terhadap kondisi pertanian di desa, terutama buat keluarga yang tanahnya hanya sedikit seperti keluarga saya.
Sekarang, ketika saya sudah hidup 8 tahun di Jakarta yang amat sangat jauh dari dunia pertanian saya berfikir “apakah mungkin saya jadi petani? apakah mungkin saya pulang kampung? apakah mungkin saya bisa hidup di kampung?” sampai pada akhirnya saya berfikir “apakah bisa jualan koneksi internet yang selama ini saya jual di Jakarta apakah bisa dijual di kampung? apakah internet dibutuhkan di desa? apakah internet bermanfaat untuk orang desa? apakah tukang service komputer laku di kampung?” dan lain sebagainya, intinya mengenai membawa ilmu saya yang di Jakarta ke kampung apakah mungkin…. Saya rasa pada poin2 itulah jawaban saya untuk pulang ke desa ia apa enggak akan terpecahkan.
Kembali mengomentari target hidup putri sulung client saya tersebut, saya pikir target hidup si putri orang kota yang tidak pernah di desa itu, anak yang hidup di ekonomi termasuk menengah ke atas tersebut saya rasa hanya karena terpengaruh film di televisi saja, karena di televisi itu kelihatannya hidup di desa enak… atau mungkin karena dia hanya terpengaruh teori dosen nya di kampus yang selalu berteori hidu itu untuk membangun masyarakat…. atau mungkin dia memang punya cita-cita mulia… mudah-mudahan.. tapi dia belum merasakan bagaiman asusahnya hidup di desa, di desa tidak ada pembantu yg mencucikan bajunya, tidak ada yang menyetrika bajunya, tidak ada yg masaki nasi buat dia, even tidak ada orang tua yang membiayai hidupnya… berat.
So, apakah dia benar2 punya target tinggal di desa?…… yang tahu dia sih..
Saya? Apakah saya akan tinggal di desa?.. Sepertinya awal tahun depan akan cukup membantu saya mengambil keputusan… awal tahun depan hanya membantu mengambil keputusan.. trus keputusannya kapan?… saya juga belum tahu.
Berikut updatenya :
Akhirnya pada bulan Februari 2009 saya jadi pulang ke desa, sekarang bulan oktober 2009 saya sudah 7 bulan di desa, Saya sedang membangun usaha di desa. Saya pun menekuninya, tentunya juga tidak mudah.
sekarang saya sudah tinggal di desa.

Admin
yang ini be4lum ada yang comment… hehehhe
adinoto
jadi target hidupnya apa tuh kang? blon ditulis hihihiii, pindah kemana sdr asrofi skrg?
Asrofi
Akhirnya target saya adalah “kembali ke desa” juga…
Sudah dipersiapkan beberapa skema….
Qeqeqe…
Rismanto
Mas Asrofi, saya ingin hidup di kota tetapi suasana desa, gimana ya? mesti banyak uang kali ya…he..he..
Asrofi
Akhirnya pada bulan Februari 2009 saya jadi pulang ke desa, sekarang(oktober 2009) sudah 7 bulan di desa, Saya sedang membangun usaha di desa. saya pun menikmatinya.
asaka
asrofi….sudah lama aq perhatiin kata demi katamu di blogger,aq kakak kelasmu dulu yg lulus 98 di darel,seangkatan ama abdul manan anak sedesamu,okey juga tuh perjalananmu seusai dari darel,gimana dah lancar lom usahanya? bentar lg aq juga mau balik kampung desa gondoharum,ttg desa khann….kapan2 ketemu yach
Asrofi
Mas Asaka,
Ia mas saya sekarang sudah di Desa. Udah 1 tahun lebih nih, masih belum menguntungkan, baru bisa jalan aja, ya sekedar buat makan. Tetep next plan nya ya harus lebih cihuy.. pasti bisa lahhh.
oke mas kapan balik? main lah ke tempat Dulamanan, seklaian mampir ke tempatku.
Ambien-Cr
Ambien Cr and Ambien Cr and Ambien Cr and Ambien Cr and Ambien Cr
Tulasi
News. Today?s Special Offer Tulasi. No Prescription Required. Cheap drugs.