Asrofi – Blogger Semarang

Blogger Kendal Semarang Jawa Tengah

Saya tunduk kepada Tuhan yang menciptakan dunia ini

  1. Saya percaya dunia ini diciptakan oleh sesuatu yang satu (Tuhan).
  2. Saya menyadari bahwa Tuhan menciptakan dunia dan seisinya ini dengan sebuah maksud.
  3. Saya, bagian dari apa yang diciptakan Tuhan di dunia ini punya kesempatan, kebebasan untuk melakukan apa saja.
  4. Saya memilih untuk melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh Tuhan, karena saya bagian dari maksud penciptaan Tuhan.
  5. Saya yakin jika Tuhan menghendaki berkomunikasi secara langsung dengan saya bisa saja, tapi yang saya percayai Tuhan hanya memilih beberapa orang tertentu untuk berkomunikasi secara langsung, kami menyebutnya Nabi dan Rasul.
  6. Saya mempercayai Ada beberapa Nabi dan Rasul yang sudah mendapatkan kesempatan berkomunikasi dengan Tuhan, tidak sedikit,  beberapa yang mungkin dikenal oleh banyak orang diantaranya Musa, Ibrahim, Isa dan .
  7. Saya mempercayai Muhammad (lahir 20 April tahun 571 M) adalah Nabi terakhir.
  8. Nabi Muhammad meninggal 8 Juni 632 M, tentunya saya tidak pernah ketemu beliau, terus kalau saya tidak pernah ketemu beliau bagaimana saya dapat tahu pesan-pesan Tuhan yang disampaikan lewat beliau?
  9. Pesan Tuhan yang disampaikan kepada Muhammad ini diingat oleh teman dan kerabat beliau, dari mulut ke mulut, kemudian dibukukan juga, pesan Tuhan ada yang khusus yang disebut Alquran, akan tetapi ada juga komunikasi Muhammad dengan Tuhan yang tidak masuk dalam Alquran.
  10. Muhammad komunikasi langsung dengan Tuhan, sehingga tidak mungkin beliau berbuat salah, karena setiap kali beliau salah pasti ditegur Tuhan. Itu sebabnya apapun yang dia katakan ataupun apapun yang dia lakukan saya dapat mengikutinya tanpa ragu, karena ini pasti sesuatu yang sudah dibenarkan oleh Tuhan.
  11. Kata-kata Muhammad dan perbuatan Muhammad dapat kita ketahui dari mulut ke mulut oleh sahabat dan keluarga beliau, akan tetapi tentunya yang boleh kita percaya yang diriwayatkan oleh orang-orang yang dapat dipercaya.
  12. Ada beberapa beberapa intelektual jaman dulu yang mengumpulkan riwayat-riwayat yang bisa dipercaya ini, diantaranya Bukhori, Muslim, Nasai, Ahmad dan lain-lain. Ada beberapa buku riwayat ini yang dikenal diantaranya Kitab Hadist Sembilan Imam (Kutubut Tis’ah)
  13. Kabar gembira, Kitab Hadist 9 Imam ini sekarang sudah dibuat versi digitalnya, sehingga memudahkan kita untuk akses riwayat-riwayat Muhammad ini. Jika anda tertarik silakan membelinya di sini.

Sang Penjaga Mushola Yang Ingin Naik Haji

Dari Email Yusuf Iskandar’ di Mailinglist Kendal Online

—————————–

Sang Penjaga Mushola Yang Ingin Naik Haji
——————————————————-
Suatu ketika saya hendak kembali ke Jogja dari Bandung dan berencana naik kereta api Malabar yang berangkat dari Stasiun Hall Bandung jam 15:30. Rupanya hari itu saya keasyikan melewatkan waktu siang ditambah dengan lalu lintas kota yang cukup padat, sehingga terlambat tiba di stasiun. Sebagai gantinya saya mencari karcis kereta jam-jam sesudahnya, karena sebelumnya saya sempat menilpun call centre katanya tiket masih banyak. Ternyata sore itu semua tiket kereta menuju arah timur untuk hari itu sudah habis. Mencoba menghubungi agen travel sebagai alternatif ternyata juga sudah tidak tersedia perjalanan hari itu.

Saya memutuskan untuk menginap semalam di Bandung dan pulang ke Jogja dengan kereta besok paginya. Sementara saya dheleg-dheleg (terbengong-bengong) karena harus menunda kepulangan ke Jogja, mampirlah saya ke mushola yang ada di ujung kiri stasiun, untuk sholat Dzuhur wal-Ashar, sambil berdoa agar pikiran tidak kemrungsung dan semoga ada pencerahan. (Jadi kalau lain kali Anda dheleg-dheleg, dimanapun Anda berada, mampirlah ke mushola atau masjid terdekat. Insya Allah akan menemukan hikmahnya. Tapi ya sholat, jangan hanya pindah dheleg-dheleg).

Usai sholat saya sempatkan mengobrol dengan penjaga mushola yang ternyata orangnya beda dengan yang pernah saya jumpai beberapa bulan sebelumnya. Dari obrolan dengan penjaga mushola yang belakangan saya ketahui bernama pak Syahroni itu saya ditanya : “Tadi tidak ada orang yang nawarin tiket?”. Saya langsung paham apa yang dimaksud, pasti beli tiket ke calo. Sejenak kemudian saya pamit kepada pak Syahroni sambil menitipkan tas. Saya hendak melihat-lihat ke bagian penjualan tiket di stasiun siapa tahu dapat inspirasi.

Benar juga. Saya dihampiri seorang bapak tua yang katanya bisa mengusahakan tiket ke Jogja malam itu. Tapi harga tiketnya Rp 100.000,- lebih mahal di atas harga loket. Tanpa pikir panjang langsung saya setujui, ketimbang harus menginap semalam di Bandung. Akhirnya saya berhasil mendapatkan tiket KA Lodaya keberangkatan jam 8 malam, dengan harga calo tentu saja.

Menunggu waktu keberangkatan malam harinya, sore itu saya memiliki banyak waktu luang yang kemudian saya habiskan untuk mengobrol dengan pak Syahroni sang penjaga mushola. Rupanya pembicaraan semakin mengasyikkan dan akrab. Bahkan pak Syahroni yang tidak punya pekerjaan tetap selain mengurusi mushola stasiun itu menawari saya untuk dipesankan minuman ke kedai di dekat situ, juga menawari akan dibelikan rokok. Tentu saja, yang pertama saya setujui tapi yang kedua saya tolak. Tak terasa obrolan terus berlanjut hingga masuk waktu maghrib bahkan isya, sampai akhirnya saya berpamitan sesaat menjelang keberangkatan kereta Lodaya yang akan meninggalkan Bandung.

***

Pak Syahroni yang kini bertempat tinggal di daerah Soreang, Bandung, bersama seorang istri dan ketiga anaknya itu rupanya seorang yang sederhana tapi berwawasan cukup luas. Meski sehari-harinya bertugas mengurusi dan menjaga mushola, namun beliau sering diminta untuk mengisi pengajian agama di lingkungan pegawai stasiun Bandung. Di kampungnya pun beliau membantu memberi pengajaran agama kepada sekitar 40 orang anak-anak di lingkungan rumah tinggalnya. Semuanya dilakukan semata-mata untuk tujuan ibadah tanpa berharap imbalan, alias dilakukannya dengan gratis. Di kampungnya pula pak Syahroni sering terlibat dan dipercaya mengisi kegiatan keagamaan.

Sudah 18 tahun pak Syahroni (kini berusia 45 tahun) menekuni pekerjaannya sebagai penjaga mushola stasiun tanpa pernah mengeluh. Tanpa gaji, tanpa honor, dan satu-satunya sumber penghasilannya adalah dari pemasukan kotak infak mushola stasiun yang dibagi dua dengan seorang teman kerjanya sesama penjaga mushola (yang juga pernah saya kenal, bernama pak Nanang). Hasil infak itu pun masih dipakai sebagiannya untuk biaya operasi mushola antara lain untuk perbaikan-perbaikan kecil, kebersihan, dsb. Bisa saya bayangkan, pasti tidak seberapa nilai “take home pay” yang bisa diperolehnya untuk menghidupi keluarganya.

Di balik semangatnya untuk terus ingin mengurus mushola dan menekuni pengabdian ibadahnya mengajarkan agama kepada siapapun tanpa berharap imbalan lebih, pak Syahroni memimpikan ingin pada suatu saat nanti bisa pergi menunaikan ibadah ke tanah suci. Pak Syahroni menceritakan impiannya itu sambil tertawa, seolah menyadari bahwa impiannya itu memang sekedar impian yang nyaris tak mungkin bakal terwujud. Namun beliau sangat yakin bahwa jika Allah menghendaki maka tidak ada yang tidak mungkin. Bahkan saking kepinginnya untuk dapat pergi ke Mekkah, tanpa ragu-ragu setiap kali membicarakan tentang ibadah , dengan percaya diri pak Syahroni mengatakan kepada siapapun: “Insya Allah tahun depan saya akan pergi ke tanah suci”. Kini entah sudah tahun ke berapa kalimat itu diwiridkannya. Tapi doanya tak pernah putus.

Tentu saja, saya harus memberi dorongan semangat kepada beliau. Bak seorang “tukang kompor” (motivator, maksudnya), saya katakan : “Benar pak, jangan berhenti berharap dan berdoa. Insya Allah impian bapak akan terwujud. Dan, Insya Allah jika umur saya panjang, saya ingin menyaksikan bapak benar-benar berangkat ke tanah suci pada suatu saat nanti”.

***

Pengalaman sejenak bersama pak Syahroni itu saya tuliskan sebagai cersta (cerita status) di Facebook, sekedar ingin berbagi pengalaman kepada sahabat-sahabat saya di Facebook. Bunyi status saya begini:

Sdh 18 th ngurus mushola stasiun. Tanpa gaji ato honor, mlainkn hasil kotak infak. Pak Syahroni (45 th), asal Soreang, kpingin skali naik haji. Stiap thn mngatakn: “insya Allah thn depan ke tnh suci”. Kini entah sdh thn ke brp kalimat itu diwiridkan. Tp doanya tak pernah putus. Melihat niat tulusnya, kubilang: “Pak, insya Allah jika umur sy panjang, sy ingin mnyaksikan Bpk benar2 brngkat ke tanah suci…”. (02/08/2010)
Setelah saya mem-posting status di Facebook itu, ternyata beberapa sahabat memberi respon yang di luar dugaan saya yang membuat saya merinding dan membangkitkan semangat. Beberapa sahabat malah berniat ingin menyumbangkan sejumlah dana untuk pak Syahroni. Maka kutulis cerita status berikutnya:

Awalnya hnya ingin sharing pngalaman ’3 jam brsama sang penjaga mushola’ di stasun Bandung. Pak Syahroni, pnjaga mushola itu ingin skali naik haji, tp satu2nya smber pnghasilan adlh kotak infak. Sy lalu mnjelma mnjd “tukang kompor”. Sy yakinkan: “Insya Allah, niat Bpk akn terwujud. Jngn brhenti berdoa”. Respon rekan2 sungguh mmbuat sy merinding, ketika ada 4 rekan berniat sedekah @Rp 1 juta. (03/08/2010)

Sebenarnya saya sendiri tidak pernah berencana membantu pak Syahroni dari sisi materi, melainkan dalam hati saya berniat membantunya dengan doa. Maka saya pun menuliskan cerita status berikutnya:

Msh ttg impian pak Syahroni (18 th mjd pnjaga, muadzin & imam mushola stasiun Bandung) utk naik haji, sdg pnghsilannya hnya dr kotak infak. Sy tdk prnah brencana mmbantu kcuali dg doa, tdk jg prnh brniat mnggalang dana apalg jd Panitia. Tp mmbaca respon para sahabat, sy jd brgairah spt ktika mlm Jum’at tiba (utk lbh bnyak tadarus, maksudnya) & adrenalin sy mningkat spt ktika mndaki gunung. (03/08/2010)

Siang tadi sy bicara via telp dg pak Syahroni. Trdengar dr bicaranya beliau terkejut, dgn terbata2 mngucap syukur & ‘hatur nuhun’. Sgr akan dibuka Tabungan Haji a/n beliau, shg siapapun yg berniat sedekah utk pak Syahroni, tinggal transfer ke rek tsb (boleh jg via sy). Ini akan mnjd bukti ksungguhan seorg hamba utk mmnuhi undangan Khaliknya. Kekurangannya biar Sang Pengundang yg mnggenapi. (03/08/2010)

Pak Syahroni ini memang bukan apa-apa saya, selain sekedar seseorang yang baru saya kenal di stasiun Bandung. Namun semangatnya untuk bisa menunaikan ibadah haji sungguh sangat menginspirasi, bahkan di mata sahabat-sahabat saya yang tersentuh hatinya untuk berempati kepada pak Syahroni. Kemudian saya pun menuliskan cerita status berikutnya:

Prlu dketahui bhw pak Syahroni ini bkn apa2 sy. Ttangga bkn, famili apalg, teman jg br kenal, tinggalnya pun jauh. Tapi kesungguhan & ketulusan niatnya utk pergi haji benar2 mnginspirasi sy. Klo ada yg tanya knapa mau repot2 mmbantunya? Sy tdk tahu. Smua trjd bgitu sj tnpa prnah sy rencana. Brngkali itulah jln rejeki bg pak Syahroni.. “min khoitsu laa yahtasiib (dr sumber yg tak trduga)”. (04/08/2010)

Hingga akhirnya atas bantuan seorang teman di Bandung, pak Syahroni telah membuka rekening Tabungan Haji. Saya tuliskan dalam cerita status saya:

Mmfasilitasi semangat brsedekah rekan2 FB utk pak Syahroni, pnjaga mushola stasiun Bdg (lihat status2 sy sblmnya). Hr ini telah dibuka rekening Tabungan Haji a/n Pak Syahroni di bank Mandiri No. Rek. 132-00-1019316-8, dg setoran awal Rp 8,5 jt. Sy pesankan kpd beliau: “Jaga niat seolah2 bpk akn sgr brngkt ke tanah suci…. Tabunglah brppun rejeki yg bpk ada & tdk usah dipikir kurangnya, biar Allah swt yg menggenapi…”. (09/08/2010)

Alhamdulillah, hingga saat ini telah terkumpul saldo sejumlah Rp 9,5 juta di rekening Tabungan Haji pak Syahroni. Memang masih jauh dari jumlah minimal yang diperlukan untuk memperoleh nomor urut daftar tunggu.

Ucapan terima kasih ingin saya sampaikan kepada segenap sahabat yang dengan niat tulus ikhlasnya mentransfer sejumlah dana untuk pak Syahroni. Bukan soal jumlah rupiahnya, melainkan berapapun nilai sedekah itu, insya Allah akan menjadi pembuka jalan bagi terwujudnya mimpi pak Syahroni untuk berkunjung ke tanah suci, entah kapan hal itu akan menjadi kenyataan. Semoga semua kebaikan para sahabat itu akan memperoleh balasan yang jauh lebih baik dari Allah swt. Amin.

NB : Jika masih ada sahabat yang ingin bersedekah untuk pak Syahroni, silakan mentransfer dananya, bisa melalui saya atau langsung ke no. rekening yang tertulis di atas dan tolong kesediannya untuk mengkonfirmasi kepada saya agar saya dapat membantu memonitornya.

Yogyakarta, 29 Agustus 2010
Yusuf Iskandar

http://yiskandar.wordpress.com
http://madurejo.wordpress.com

Baca juga! : Jabon sebagai alternatif investasi dalam pertanian

Kamera Obscura yang Mengubah Dunia

Surat kabar terkemuka di Inggris, The Independent pada edisi 11 Maret 2006 sempat menurunkan sebuah artikel yang sangat menarik bertajuk ”Bagaimana para inventor mengubah dunia.”  The Independent menyebut sekitar 20 penemuan penting para ilmuwan Muslim yang mampu mengubah peradaban umat manusia, salah satunya adalah penciptaan obscura.

Kamera  merupakan salah satu penemuan penting yang dicapai umat manusia. Lewat jepretan dan bidikan kamera, manusia bisa merekam dan mengabadikan beragam bentuk gambar mulai dari sel manusia hingga galaksi di luar angkasa. Teknologi pembuatan kamera, kini dikuasai peradaban Barat serta Jepang. Sehingga, banyak umat Muslim yang meyakini kamera berasal dari peradaban Barat.

Jauh sebelum masyarakat Barat menemukannya, prinsip-prinsip dasar pembuatan kamera telah dicetuskan seorang sarjana Muslim sekitar 1.000 tahun silam. Peletak prinsip kerja kamera itu adalah seorang saintis legendaris Muslim bernama Ibnu al-Haitham. Pada akhir abad ke-10 M,  al-Haitham berhasil menemukan sebuah kamera obscura.

Itulah salah satu karya al-Haitham yang paling menumental. Penemuan yang sangat inspiratif itu berhasil dilakukan al-Haithan bersama Kamaluddin al-Farisi. Keduanya berhasil meneliti dan merekam fenomena kamera obscura. Penemuan itu berawal ketika keduanya mempelajari gerhana matahari. Untuk mempelajari fenomena gerhana, Al-Haitham membuat lubang kecil pada dinding yang memungkinkan citra matahari semi nyata diproyeksikan melalui permukaan datar.

Kajian ilmu optik berupa kamera obscura itulah yang mendasari kinerja kamera yang saat ini digunakan umat manusia. Oleh kamus Webster, fenomena ini secara harfiah diartikan sebagai ”ruang gelap”. Biasanya bentuknya berupa kertas kardus dengan lubang kecil untuk masuknya cahaya. Teori yang dipecahkan Al-Haitham itu telah mengilhami penemuan film yang kemudiannya disambung-sambung dan dimainkan kepada para penonton.

“Kamera obscura pertama kali dibuat ilmuwan Muslim, Abu Ali Al-Hasan Ibnu al-Haitham, yang lahir di Basra (965-1039 M),” ungkap Nicholas J Wade dan Stanley Finger dalam karyanya berjudul  The eye as an optical instrument: from camera obscura to Helmholtz’s perspective.

Dunia mengenal al-Haitham sebagai perintis di bidang optik yang terkenal lewat bukunya bertajuk  Kitab al-Manazir (Buku optik). Untuk membuktikan teori-teori dalam bukunya itu, sang fisikawan Muslim legendaris itu lalu menyusun  Al-Bayt Al-Muzlim atau lebih dikenal dengan sebutan kamera obscura, atau  kamar gelap.

Bradley Steffens dalam karyanya berjudul  Ibn al-Haytham:First Scientist mengungkapkan bahwa  Kitab al-Manazir merupakan buku pertama yang menjelaskan prinsip kerja kamera obscura. “Dia merupakan ilmuwan pertama yang berhasil memproyeksikan seluruh gambar dari luar rumah ke dalam gambar dengan kamera obscura,” papar Bradley.

Istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pun diperkenalkan di Barat sekitar abad ke-16 M. Lima abad setelah penemuan kamera obscura, Cardano Geronimo (1501 -1576), yang terpengaruh pemikiran al-Haitham mulai mengganti lobang bidik lensa dengan lensa (camera).

Setelah itu,  penggunaan lensa pada kamera onscura juga dilakukan Giovanni Batista della Porta (1535–1615 M). Ada pula yang menyebutkan bahwa istilah kamera obscura yang ditemukan al-Haitham pertama kali diperkenalkan di Barat oleh Joseph Kepler (1571 – 1630 M). Kepler meningkatkan fungsi kamera itu dengan menggunakan lensa negatif di belakang lensa positif, sehingga dapat memperbesar proyeksi gambar (prinsip digunakan dalam dunia lensa foto jarak jauh modern).

Setelah itu, Robert Boyle (1627-1691 M), mulai menyusun kamera yang berbentuk kecil, tanpa kabel, jenisnya kotak kamera obscura pada  1665 M.  Setelah 900 tahun dari penemuan al-Haitham pelat-pelat foto pertama kali digunakan secara permanen untuk menangkap gambar yang dihasilkan oleh kamera obscura. Foto permanen pertama diambil oleh Joseph Nicephore Niepce di Prancis pada 1827.

Tahun 1855, Roger Fenton menggunakan plat kaca negatif untuk mengambil gambar dari tentara Inggris selama Perang Crimean. Dia mengembangkan plat-plat dalam perjalanan kamar gelapnya – yang dikonversi gerbong. Tahun 1888, George Eastman mengembangkan prinsip kerja kamera obscura ciptaan al-Hitham dengan baik sekali. Eastman menciptakan kamera kodak. Sejak itulah, kamera terus berubah mengikuti perkembangan teknologi.

Sebuah versi kamera obscura digunakan dalam Perang Dunia I untuk melihat pesawat terbang dan pengukuran kinerja. Pada Perang Dunia  II kamera obscura juga digunakan untuk memeriksa keakuratan navigasi perangkat radio. Begitulah penciptaan kamera obscura yang dicapai al-Haitham mampu mengubah peradaban dunia.

Peradaban dunia modern tentu sangat berutang budi kepada ahli fisika Muslim yang lahir di Kota Basrah, Irak. Al-Haitham selama hidupnya telah menulis lebih dari 200 karya ilmiah. Semua didedikasikannya untuk kemajuan peradaban manusia.  Sayangnya, umat Muslim lebih terpesona pada pencapaian teknologi Barat, sehingga kurang menghargai dan mengapresiasi pencapaian ilmuwan Muslim di era kejayaan Islam.

Sejarah Sang Penemu Kamera Obscura

Tahukah Anda, kata kamera yang digunakan saat ini berasal dari bahasa Arab, yakni  qamara ?  Istilah itu muncul berkat kerja keras al-Hatham. Bapak fisika modern itu   terlahir dengan nama Abu Ali al-Hasan Ibnu al-Hasan Ibnu al-Haitham di Kota Basrah, Persia, saat Dinasti Buwaih dari Persia menguasai Kekhalifahan Abbasiyah.

Sejak kecil al-Haitham ydikenal berotak encer. Ia  menempuh pendidikan pertamanya di tanah kelahirannya. Beranjak dewasa ia merintis kariernya sebagai pegawai pemerintah di Basrah. Namun, Al-Haitham lebih tertarik untuk menimba ilmu dari pada menjadi pegawai pemerintah. Setelah itu, ia merantau ke Ahwaz dan metropolis intelektual dunia saat itu yakni kota Baghdad. Di kedua kota itu ia menimba beragam ilmu. Ghirah keilmuannya yang tinggi membawanya terdampar hingga ke Mesir.

Al-Haitham pun sempat mengenyam pendidikan di Universitas al-Azhar yang didirikan Kekhalifahan Fatimiyah. Setelah itu, secara otodidak, ia mempelajari hingga menguasai beragam disiplin ilmu seperti ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, fisika, dan filsafat.

Secara serius dia mengkaji dan mempelajari seluk-beluk ilmu optik. Beragam teori tentang ilmu optik telah dilahirkan dan dicetuskannya. Dialah orang pertama yang menulis dan menemukan pelbagai data penting mengenai cahaya. Konon, dia telah menulis tak kurang dari 200 judul buku.

Dalam salah satu kitab yang ditulisnya, Alhazen – begitu dunia Barat menyebutnya – juga menjelaskan tentang ragam cahaya yang muncul saat matahari terbenam. Ia pun mencetuskan teori tentang berbagai macam fenomena fisik seperti bayangan, gerhana, dan juga pelangi.

Keberhasilan lainnya yang terbilang fenomenal adalah kemampuannya menggambarkan indra penglihatan manusia secara detail. Tak heran, jika ‘Bapak Optik’ dunia itu mampu memecahkan rekor sebagai orang pertama yang menggambarkan seluruh detil bagian indra pengelihatan manusia. Hebatnya lagi, ia mampu menjelaskan secara ilmiah proses bagaimana manusia bisa melihat.

Teori yang dilahirkannya juga mampu mematahkan teori penglihatan yang diajukan dua ilmuwan Yunani, Ptolemy dan Euclid. Kedua ilmuwan ini menyatakan bahwa manusia bisa melihat karena ada cahaya keluar dari mata yang mengenai objek. Berbeda dengan keduanya, Ibnu Haytham mengoreksi teori ini dengan menyatakan bahwa justru objek yang dilihatlah yang mengeluarkan cahaya yang kemudian ditangkap mata sehingga bisa terlihat.

Secara detail, Al-Haitham pun menjelaskan sistem penglihatan mulai dari kinerja syaraf di otak hingga kinerja mata itu sendiri. Ia juga menjelaskan secara detil bagian dan fungsi mata seperti konjungtiva, iris, kornea, lensa, dan menjelaskan peranan masing-masing terhadap penglihatan manusia. Hasil penelitian Al-Haitham itu lalu dikembangkan Ibnu Firnas di Spanyol dengan membuat kaca mata.

Dalam buku lainnya yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris berjudul  Light On Twilight Phenomena, al-Haitham membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.

Menurut Al-Haitham, cahaya fajar bermula apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk timur. Warna merah pada senja akan hilang apabila matahari berada di garis 19 derajat ufuk barat. Ia pun menghasilkan kedudukan cahaya seperti bias cahaya dan pembalikan cahaya.

Al-Haitham juga mencetuskan teori lensa pembesar. Teori itu digunakan para saintis di Italia untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Sayangnya, hanya sedikit yang terisa. Bahkan karya monumentalnya, Kitab  al-Manazhir , tidak diketahui lagi keberadaannya. Orang hanya bisa mempelajari terjemahannya yang ditulis dalam bahasa Latin.   she/desy susilawati/heri ruslan.

Artikel ini sepenuhnya saya salin dari http://main.man3malang.com/index.php?name=News&file=article&sid=2077