Asrofi – Blogger Semarang

Blogger Kendal Semarang Jawa Tengah

Impor Sapi dari Amerika Serikat?

Penghentian Impor Sapi dari Australia membuat peternak di Indonesia semakin bergairah (http://bisnis.vivanews.com/news/read/227389-impor-berkurang–peternak-sapi-bergairah) akan tetapi dengan adanya pembahasan mengenai sapi dari negara pengganti Australia yaitu Amerika dan Meksiko (http://www.bisnis.com/ekonomi/perdagangan/27558-ri-jajaki-impor-sapi-dari-as-dan-meksiko) pastinya akan menurunkan gairah para peternak sapi lagi.

Bisakah kita tidak impor sapi? Seharusnya dengan tekat bulat bisa, mungkin perlu kerja keras berbagai pihak saja, sebelum kita bicara kenapa kita tidak men-target pemenuhan kebutuhan dalam negeri dahulu?

Kalau membaca pernyataan di bawah ini (Media), orang yang awam semacam saya ini beranggapan seharusnya kita bisa kok tidak impor sapi, hanya perlu kerja keras saja, dalam arti benar-benar kerja keras antar berbagai pihak dan mau memirkirkan kemajuan peternak lokal, bukannya menguntungkan industri peternakan modern di negeri lain.

Pasalnya stok baik daging sapi maupun sapi bakalan di dalam negeri masih cukup” (lihat LAMPIRAN 1) dan
Tanpa sapi Australia, jumlah sapi kami (NTB) sudah banyak, bahkan surplus pada 2010” (LAMPIRAN 2)

Bicara soal impor, negeri Malaysia tetangga kita ternyata berjaya dengan menjadikan kita sebagai target market mereka, dalam kurun waktu Januari-Mei 2011 saja total ekspor makanan Malaysia ke Indonesia mencapai US$ 20,67 JUTA, angka tersebut hanya dalam bentuk makanan-minuman, belum impor kita lainnya yang mungkin ada. (lihat LAMPIRAN 3)

Kalau mengamati hal tersebut di atas saya rasa pendapat Pak Happy Trenggono ini menjadi masuk akal. Silakan tonton di sini http://www.youtube.com/watch?v=BMJogWL9QZ4 (LAMPIRAN 4)

Mari kita renungkan kembali, kalau , sapi dan kedelai saja impor, tentunya pesawat Boeing dan henpon Blackberry juga impor. Seyogyanya boleh lah kita impor, tapi ya jangan semua diimpor, masa semuanya impor?
Kalau begini caranya kita menjadi konsumen sepanjang masa atau atau menjadi konsumen 24 jam namanya.

Baiklah, pada akhirnya kita tidak perlu menyalahkan siapapun (dalam hal ini termasuk Deperindag yang membuka kran impor), karena ujung-ujungnya kembali ke mental kita bersama yang seharusnya diperbaiki yaitu kerelaan untuk membeli produk dalam negeri, beli produk saudara sendiri sebagaimana di negeri China.

Mari kita beli produk dalam negeri.

===========
LAMPIRAN 1
===========
http://www.bisnis.com/ekonomi/perdagangan/27558-ri-jajaki-impor-sapi-dari-as-dan-meksiko
RI jajaki impor sapi dari AS dan Meksiko

JAKARTA: Kendati belum usai dibahas, Kementerian Perdagangan mengisyaratkan dua negara yakni Amerika Serikat dan Meksiko sebagai sumber baru pasokan daging sapi untuk Indonesia, menyusul penghentian sementara ekspor sapi dari Australia.

“Di bawah peraturan, sumbernya harus dari negara yang 100% bebas dari penyakit. Kalau saya tidak salah, yang sudah 100% bebas dari penyakit itu baru Amerika Serikat dan Meksiko. India dan Brazil belum,” ujar Menteri Perdagangan kepada wartawan, hari ini.

Mari mengatakan pemerintah tengah dalam koordinasi di tingkat menteri untuk mencari alternatif sumber pasokan baru. Langkah tersebut merupakan upaya memperoleh sumber pasokan yang terdiversifikasi dari segi asal negara.

“Memang belum ada langkah konkrit. Kita masih melakukan berbagai penjajakan,” katanya.

Dia menambahkan saat ini juga Amerika sudah mulai menjajaki potensi ekspor daging sapi. “Kita akan lihat ke depannya berbagai kemungkinan itu.”

Mari juga mengatakan penghentian ekspor sapi dari Australia tersebut tidak harus menimbulkan kekhawatiran. Pasalnya stok baik daging sapi maupun sapi bakalan di dalam negeri masih cukup.

Mari menilai harga daging sapi masih dalam kondisi stabil. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan , harga daging sapi pada minggu pertama Juni relative stabil dan bahkan menunjukkan gejala penurunan.

“Kami akan pantau terus apalagi menjelang lebaran. Harus dipastikan menjelang lebaran, pasokannya harus cukup,” katanya. (sut)

===========
LAMPIRAN 2
===========
http://bisnis.vivanews.com/news/read/226507-ntb-siap-gantikan-sapi-yang-distop-australia

Surplus, NTB Siap Gantikan Sapi Australia
“Tanpa sapi Australia, jumlah sapi kami (NTB) sudah banyak, bahkan surplus pada 2010.”

VIVAnews – Video perlakuan sadistis terhadap sapi di rumah-rumah jagal Indonesia menjadi pemicu dihentikannya impor sapi hidup dari Australia. Namun, masyarakat Indonesia tak perlu khawatir. Sebab, populasi sapi di NTB sudah menembus angka 695.951–melebihi target yang ditetapkan pemerintah daerah pada 2010, yakni sebanyak 683.347.

Jumlah tersebut meningkat dibanding dua tahun sebelumnya yang mencapai 546.114 pada 2008 dan 592.875 pada 2009. Kepala Seksi Ternak  Ruminansia Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan NTB Iskandar Zulkarnaen menyatakan, NTB menerapkan berbagai program untuk meningkatkan populasi ternak sapinya.

Program percepatan tersebut antara lain memperbanyak induk sapi dalam populasi, memperpendek jarak kelahiran–dari sebelumnya 17 bulan menjadi 14 bulan–menurunkan angka kematian pedet dari 20 persen menjadi 13 persen, mengurangi pemotongan betina produktif, dan mengatur pengeluaran sapi keluar daerah. Jika sebelumnya NTB mengeluarkan ternak sapi ke sejumlah daerah sebanyak 6.600, saat ini jumlah tersebut menurun menjadi 6.000 ekor.

“Tanpa sapi Australia, jumlah sapi kami (NTB) sudah banyak, bahkan surplus pada 2010. Jadi, tidak berpengaruh apa-apa kebijakan Australia untuk menghentikan ekspor sapi ternaknya ke Indonesia,” kata Zulkarnaen di Mataram, Senin, 13 Juni 2011.

Provinsi NTB yang mencanangkan program Bumi Sejuta Sapi terus berupaya meningkatkan jumlah populasi sapinya. Pada 2011 ini, pemerintah NTB memperoleh Rp70 miliar dari pemerintah pusat melalui dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Dana tersebut digunakan untuk program intensif dan penyelamatan sapi betina produktif dengan sasaran seluruh peternak sapi di 10 kabupaten dan kota se-NTB.

Dengan dana itu, sejumlah peternak sapi yang berhasil mengembangbiakkan sapinya akan mendapat penghargaan berupa uang Rp500 ribu. Jumlah kelompok peternak sapi di NTB hingga saat ini mencapai 1.319 kelompok peternak yang tersebar di Sumbawa dan Lombok. Satu kelompok terdiri atas 20 peternak sapi.

“Program itu menjadi salah satu wujud kepedulian pemerintah pusat terhadap pengembangbiakan sapi di NTB,” ujarnya.

Terkait dengan itu, pemerintah NTB berupaya memperbanyak jumlah petani dan peternak sapi sehingga pada 2011 dapat memenuhi target. Pada 2011 ini, NTB mentargetkan 780.724 sapinya. Dengan begitu, diharapkan pada 2013 jumlah populasi sapi di NTB melebihi target, yakni satu juta sapi. (Laporan: Edy Gustan, Mataram)

===========
LAMPIRAN 3
===========
http://industri.kontan.co.id/v2/read/1308191406/70391/Impor-makanan-dari-Malaysia-naik-76
Impor makanan dari Malaysia naik 76%

JAKARTA. Malaysia benar-benar menggarap pasar Indonesia untuk memperbesar ekspor produk makanan dan minuman. Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) melaporkan, total nilai impor makanan dari Malaysia periode Januari-Mei 2011 mencapai
US$ 20,67 juta.

Nilai impor itu naik 76,17% dari periode sama tahun lalu. Melonjaknya impor itu, selain karena wilayah yang berdekatan, selera makanan orang Indonesia dan Malaysia juga cenderung sama.

Sekretaris Jenderal Gapmmi, Franky Sibarani mengatakan, peningkatan impor makanan dari Malaysia bisa mengancam industri dalam negeri. “Impor dari Malaysia menguasai 23,08% dari total impor makanan dan minuman,” kata Franky, Selasa (14/6).

Tidak mustahil, menurut Franky, ke depannya Malaysia akan semakin menguasai pasar makanan di dalam negeri. Terlebih lagi, jika daya saing industri makanan di dalam negeri tidak dibenahi.

Selama ini, cukup banyak kendala yang menghambat perkembangan daya saing industri makanan. Beberapa di antaranya adalah pasokan gas yang terbatas dan biaya logistik yang sangat tinggi.

Selain Malaysia, Indonesia juga kebanjiran produk makanan dari sejumlah negara ASEAN lainnya. Impor makanan dari Thailand menempati posisi kedua terbesar dengan nilai US$ 8,96 juta. Selanjutnya Singapura sebesar US$ 7,48 juta, dan Filipina mencapai US$ 5,51 juta.

Vietnam yang tahun lalu belum muncul sebagai pengimpor, tahun ini mencatatkan angka U$$ 1,22 juta. Sedangkan impor dari China mencapai 11,37 juta atau turun 6,66%. Adapun total impor makanan dari seluruh negara pada Januari-Mei 2011 mencapai US$ 89,87 juta. Angka itu naik 17,02% dibanding periode sama tahun lalu.

Deddy Saleh, Direktur Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Kemendag) bilang, naiknya impor mamin dari negara-negara ASEAN, terutama Malaysia bisa juga disebabkan karena peralihan dari impor ilegal menjadi legal. “Sekarang bea impor sudah nol persen, jadi ada kemungkinan yang sebelumnya ilegal beralih menjadi legal,” kata Deddy.

===========
LAMPIRAN 4
===========
http://www.youtube.com/watch?v=BMJogWL9QZ4

Noam Chomsky: Obama, “Godfather” Baru AS

(Eramuslim Selasa, 03/11/2009 09:35 WIB)

chomskyIntelektual asal AS Noam Chomsky mengingatkan dunia internasional agar tidak terlalu banyak berharap Presiden AS Barack Obama akan melakukan perubahan signifikan dalam gaya pemerintahan dan kebijakan negeri Paman Sam itu. Menurut Chomsky, AS di bawah kepemimpinan Barack Obama masih akan mempertahankan apa yang disebut Chomsky “prinsip-prinsip mafia” dalam kebijakan luar negerinya.

“Ketika Obama resmi menjadi presiden, Condoleezza Rice bilang Obama akan melanjutkan kebijakan Bush dan sedikit banyak itulah yang terjadi. Yang berbeda cuma gaya retorikanya saja. Padahal yang dibutuhkan adalah perbuatan baik buka cuma retorika. Tindakan yang baik akan memunculkan cerita yang berbeda,” ujar Chomsky.

Ia mengungkapkan hal tersebut dalam ceramahnya di School of Oriental and African Studies (SOAS) di London, Inggris. Pada kesempatan itu, Chomsky membeberkan berbagai contoh doktin-doktrin kebijakan luar negeri AS sejak berakhirnya Perang Dunia II sampai masa pemerintahan Obama.

Menurutnya, tidak ada perubahan mendasar dalam konsep fundamental kebijakan luar negeri AS. AS masih tetap berpegang pada keyakinan tradisionalnya bahwa jika AS bisa menguasai dan mengkontrol sumber-sumber energi di Timur Tengah, maka AS bisa menguasai dan mengendalikan dunia. Chomsky menyebut doktrin yang diterapkan AS dalam kebijakan luar negerinya untuk medominasi dunia itu sama dengan “prinsip mafia”.

Iran dan Irak

“Seorang Godfather (sebutan untuk bos mafia) tidak mentoleransi ‘para pembangkangnya, apalagi jika pembangkang itu sukses’. Bagi AS, bersikap seperti itu sangat berbahaya dan oleh sebab itu bagi AS, pembangkang harus disingkirkan agar yang lain tahu bahwa ketidakpatuhan pada AS bukan sebuah pilihan. Pembangkang yang sukses, bagi AS merupakan “virus” yang bisa menular kemana-mana,”papar Chomsky.

Dan salah satu “virus” yang ditakutkan AS sampai saat ini adalah Iran. Ketakutan itu sudah ditunjukkan AS saat menumbangkan parlemen Iran yang terpilih secara demokratis pada tahun 1953. “Tujuan AS waktu itu adalah ingin mengendalikan sumber-sumber minyak Iran,” kata Chomsky.

Tapi AS kembali harus menghadapi “virus” pembangkangan pada tahun 1979, ketika pecah revolusi Islam Iran. Kali ini, upaya AS untuk memusnahkan “virus” itu dengan membujuk militer Iran, gagal total. Dan AS beralih memberikan dukungan pada pemimpin Irak, Saddam Hussein saat untuk melakukan invasi ke Iran.

“Sampai detik ini, AS masih terus ‘menyiksa’ Iran dengan sanksi dan alat tekanan lainnya,” sambung Chomsky.

Ia mencibir tudingan yang menyebutkan kemungkinan Iran membangun program nuklirnya untuk membuat persenjataan. Ia malah menyebutkan bahwa AS-lah yang sudah menyiapkan senjata-senjata anti-misil di Israel, bukan untuk pertahanan negara tapi untuk sewaktu-waktu menyerang Iran.

Chomsky juga mengingatkan kembali hubungan mesra AS dengan mantan pemimpin Irak, Saddam Hussein. Hubungan itu berlanjut hingga selesainya perang Irak-Iran di era tahun 1980-an. AS mengundang para ilmuwan Irak dan memberikan pelatihan dalam bidang program nuklir. AS mulai kesal dengan Saddam Hussein ketika pemimpin Irak itu melakukan invasi ke Kuwait pada tahun 1990-an yang juga salah satu sekutu dekat AS di Timur Tengah.

“AS dengan cepat berubah. Saddam yang tadinya teman akrab AS menjadi sosok yang dianggap seperti reinkarnasi Hitler oleh AS,” tukas Chomsky.

Akhirnya dengan segala cara dan alasan yang manipulatif, AS melakukan agresi ke Irak dan melakukan “genosida” terhadap rakyat sipil di Negeri 1001 Malam itu. Begitu pula di Afghanistan dan kawasan Timur Tengah lainnya, kepentingan AS cuma satu, yaitu menguasai sumber alam berupa hasil minyak bumi yang melimpah di kawasan tersebut dengan atau tanpa kekerasan.

Dan lewat media massa serta sejumlah intelektual pro-pemerintah, pemerintah AS berhasil memanipulasi publik AS dengan mengatakan bahwa kejahatan dan kekejaman yang dilakukan AS adalah untuk “pertahanan” negara atau “intervensi demi kepentingan kemanusiaan.”

Chomsky menambahkan, Obama telah memperluas perang Bush di Afghanistan dengan melibatkan NATO yang digunakan AS bukan untuk memperkuat kontrol AS terhadap suplai energi tapi juga untuk menjaga agar Eropa tetap dibawah kendali AS.

Sumber-sumber minyak di Timur Tengah, kata Chomsky, merupakan “sumber dari kekuatan strategis” dan “salah satu material yang paling berharga dalam sejarah dunia”. Ia mengutip pernyataan mantan presiden AS Eisenhower yang mengatakan bahwa Timur Tengah dan sumber minyaknya merupakan “wilayah yang secara strategis paling penting di dunia.”

Jika AS berhasil menguasai sumber minyak Timur Tengah, maka AS secara subtansial bakal menjadi penguasa dunia. Untuk itu, AS harus memberikan dukungan pada regime yang brutal dan kejam serta menghalangi pembangunan serta demokratisasi di Timur Tengah. Satu hal yang sebenarnya bertentangan dengan retorika AS selama ini yang katanya ingin menegakkan demokrasi di kawasan itu.

Somalia, Darfur dan Israel

Peran AS dalam kekacauan di Somalia menurut Chomsky, salah satunya adalah kampanye perang melawan teror yang dikobarkan AS. AS berhasil menimbulkan opini bahwa lembaga amal Muslim di Somalia, Barakat adalah salah satu organisasi yang memberikan bantuan pada teroris, sehingga lembaga itu ditutup.

Penutupan Barakat merupakan pukulan berat bagi Somalia karena lembaga ini memainkan peran yang cukup besar dalam perekonomian Somalia. Lembaga amal itu bukan hanya memberikan bantuan bagi orang-orang miskin di Somali tapi juga mengelola bank dan sejumlah perusahaan di negeri itu.

“Barakat adalah bagian penting perekonomian Somalia. Menutup lembaga itu memberikan kontribusi yang besar bagi melemahnya kondisi sosial rakyat Somalia,” ujar Chomsky.

Mengomentari konflik berkepanjangan di Darfur, Chomsky menilai Darfur menjadi korban permainan para aktivis humanis dari Barat yang mendistorsi akar konflik yang sebenarnya terjadi di negeri itu. “Darfur menjadi populer di kalangan humanis Barat. Mereka mendistorsi penyebab konflik dan dengan mudahnya mengkambinghitamkan ‘orang-orang Arab’ dan menyebut ‘para penjahat’ sebagai otak dari kekacauan di Darfur,” tukas Chomsky.

Itu semua pada dasarnya strategi licik yang dimainkan Barat, termasuk AS seperti yang mereka mainkan di negara Kongo dan Rwanda. Di kedua negara itu, mereka membiayai para milisi untuk membunuh dan membantai siapa saja yang menghalangi Barat untuk menguasai sumber-sumber mineral di negeri itu.

Sementara terkait konflik Israel-Palestina, Chomsky berpendapat Obama tidak melakukan upaya yang nyata untuk menekan Israel agar memenuhi kewajiban-kewajibannya, meski sikap Obama terhadap Israel terkesan lebih keras dibandingkan Bush. Pemerintah AS dibawah kepemimpinan Obama, tetap tidak berani menghentikan bantuannya untuk Tel Aviv sehingga Israel merasa tidak perlu mendengarkan kritikan dan mematuhi seruan Washington dalam proses perdamaian Israel-Palestina.

Chomsky menegaskan, publik di AS dan Inggris kini makin terbuka matanya dengan berbagai kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel di Palestina. Tapi sikap Israel tidak akan berubah jika ada tekanan yang kuat dari Barat.

“Masih banyak yang harus dilakukan negara-negara Barat, utamanya AS untuk menekan Israel agar mengubah kebijakan-kebijakannya atas Palestina,” tandas Chomsky. (ln/mol)